Halo, perkenalkan saya Irham Azhari Aulia, mahasiswa S2 Magister Teknik Informatika semester 3, sehari-hari mengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial di SMP. Di tulisan ini saya mau berbagi proyek yang sedang saya kembangkan, yaitu NOVIOT, simulator Arduino dan ESP32 berbasis web. Proyek ini bukan sekadar hobi — NOVIOT adalah objek riset tesis saya, jadi tulisan ini saya buat juga sebagai dokumentasi perjalanan riset tersebut.

Setiap kali mengajar praktik IoT, masalahnya selalu sama: perangkat keras terbatas. Satu kelas isinya belasan sampai puluhan siswa, sementara board Arduino/ESP32, sensor, dan kabel yang tersedia tidak sebanyak itu. Belum lagi risiko komponen rusak karena salah pasang kabel. Simulator yang sudah ada, misalnya Wokwi, sebenarnya bagus, tapi berbayar dengan harga dolar dan tampilannya berbahasa Inggris — kurang ramah untuk sekolah di Indonesia yang anggarannya dari dana BOS.
Dari situ muncul pertanyaan sederhana: bisa tidak ya membuat simulator ESP32 yang jalan langsung di browser, berbahasa Indonesia, dan memang dirancang untuk pembelajaran di kelas? Pertanyaan itu yang kemudian saya angkat menjadi topik tesis dengan metode research and development (R&D), dilanjutkan uji efektivitasnya pada pembelajaran di SMP.
NOVIOT adalah simulator Arduino Uno dan ESP32 yang berjalan di web. Pengguna tidak perlu install apa pun — cukup buka browser (termasuk dari HP), pilih board, tulis kode, lalu jalankan simulasinya. Komponen seperti LED, sensor ultrasonik, sensor hujan, servo, sampai LCD bisa dipasang secara virtual dan perilakunya meniru perangkat aslinya. Untuk ESP32, tersedia juga simulasi WiFi, web server, dan MQTT virtual, jadi siswa bisa belajar konsep IoT tanpa harus memegang perangkat fisik dulu.
Nama NOVIOT sendiri gabungan dari kata “Nova” dan “IoT”. Selain mode simulator terbuka, di dalamnya ada fitur kelas: guru bisa membuat kelas, membagikan materi dan contoh proyek, dan siswa mengerjakan langsung dari contoh yang sesuai tutorial.


Dalam tesis saya, NOVIOT dikembangkan dengan tahapan R&D: analisis kebutuhan guru dan siswa, perancangan, pengembangan, lalu uji coba. Setelah produknya stabil, tahap berikutnya adalah uji efektivitas — membandingkan hasil belajar siswa yang memakai simulator ini dengan pembelajaran praktik konvensional. Harapannya, simulator bisa menjadi jalan tengah: siswa tetap dapat pengalaman “merangkai dan memprogram” walaupun perangkat fisik di sekolah terbatas.
Pengembangan ke depan yang sedang saya kaji adalah memperkaya contoh proyek berbasis data dan kecerdasan buatan di level perangkat (edge AI/TinyML), misalnya simulasi pengenalan pola sensor sederhana, supaya siswa SMP pun bisa berkenalan dengan konsep machine learning dari perangkat yang mereka program sendiri.
Membangun NOVIOT mengajarkan saya bahwa riset tidak harus mulai dari hal besar. Berangkat dari masalah nyata di kelas sendiri, dikerjakan bertahap, dan diuji langsung ke penggunanya. Buat teman-teman mahasiswa yang sedang mencari topik tesis: coba lihat masalah di sekitar tempat kita bekerja — sering kali topik terbaik justru ada di situ. Silakan dicoba simulasinya di noviot.azdc.my.id, kritik dan masukan sangat saya tunggu.